Search

Terpopuler - Properti Lesu, Bisnis JNE Kinclong

INILAHCOM, Jakarta -- Pada seminar "Facing the Disruption Era" di kantor pusat Pertamina, jumat pekan lalu, Prof.Rhenald Kasali mengamati dua hal yang kontradiktif pada bisnis di dalam negeri.

Kalangan pebisnis properti yang ditemui Guru Manajemen lulusan University of Chicago ini menyatakan bisnis mereka kini sedang lesu darah. Di sisi lain, Presiden Direktur Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang mengatakan, produksi mi PT Indofood Sukses Makmur naik berlipat-lipat untuk memenuhi permintaan dari seluruh dunia yang membludak.

Yang juga kian moncer adalah bisnis logistik yang dijalankan oleh PT JNE. Perusahaan ini kini menambah 500 karyawan untuk menjawab tingginya tingkat pengiriman barang. Penerbangan kargo dari kota Solo yang mengangkut paket-paket kiriman ke berbagai kota naik drastis.Moncernya bisnis JNE terutama karena terimbas oleh maraknya pasar e-commerce alias jual-beli dalam jaringan (online)

Bisnis properti lesu karena para pemainnya tidak mau mengubah model bisnis lama terutama pada teknologi pembangunan properti, sehingga harus mematok harga yang tinggi. Kalangan the "haves" umumnya sudah memiliki hunian atau bangunan komersial. Yang membutuhkan hunian adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp15 juta per bulan yang mampu mencicil rumah Rp 5 juta per bulan.Pasar inilah yang membutuhkan hunian saat ini.Dan ceruk pasarnya besar sekali. Para Developer besar kini dikeroyok dan diganggu (disrupted) oleh pemain-pemain baru yang skala bisnisnya kecil-kecil saja.

PT Pos Indonesia juga harus mengakui kekalahannya dari pemain baru seperti JNE,Pandu Logistik, Lorena dan sebagainya. Padahal jaringan kantor pos sudah tersebar di seluruh Indonesia. PT Pos perlu mengubah model bisnisnya dengan mengevaluasi strategi bisnisnya, sehingga mampu memberi layanan dengan tarif yang murah namun kualitasnya lebih baik dari para pemain logistik lainnya.

Prof. Kasali mengutip guru manajemen top dari harvard Business School, Vijay Govinndarajan. Prof Govinndarajan mengenalkan konsep Trimurti kedalam manajeman atau bisnis. dalam Hindu dikenal Brahma sang pencipta, Wishnu pemelihara dan Syiwa sang perusak. Namun mereka bukanlah dewa bagi Prof Govinndarajan.Ketiganya adalah fungsi dari manajemen. Ada yang berfungsi menciptakan, ada yang berfungsi memelihara dan ada yang berfungsi menghancurkan atau mengganggu (disruption) model bisnis yang sudah usang.

Prof.Kasali dengan tepat menyodorkan contoh bagaimana Mochtar Ryadi mendirikanBank Panin yang kemudian dijual ke adik iparnya, Mukmin Ali Gunawan. Ia kemudian bergabung dengan liem Sioei Liong (Sudono Salim) dan mendirikan Bank Central Asia pada 1975, sebelum mendirikan Lippo Bank pada 1981. Lippo pun kemudian dijual kepada CIMB Malaysia dan kini Mochtar Ryadi lebih menekuni bisnis properti dan retail online , Matahari Mall. Mochtar Ryadi memahami betul fungsi Brahma, Wisnu dan Syiwa di dalam Business model dengan timing yang sangat tepat melakukan disruption tiada henti.

Pada Seminar "Facing the Disruption Era" di Pertamina, beberapa orang karyawan Pertamina mengajukan pertanyaan sekitar terjadinya "Generation Gap" antara karyawan muda dan yang senior (di atas 50 tahun). Karyawan usia muda lebih dari 60 persen dari populasi karyawan Pertamina saat ini.

Elia Massa Manik, Direktur Utama Pertamina yang baru beberapa bulan menjabat, meminta seluruh Strategic Business Unit (SBU) di anak-anak perusahaan Pertamina harus membangun fondasi yang kokoh yang dapat menjadi jembatan "generation gap" ini. Prof Rhenald Kasali siap membantu memberikan pelatihan membangun jembatan yang dapat menjembatani "generation gap" tersebut kepada seluruh anak perusahaan Pertamina.

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Terpopuler - Properti Lesu, Bisnis JNE Kinclong : http://ini.la/2394499

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Terpopuler - Properti Lesu, Bisnis JNE Kinclong"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.