Search

Terpopuler - Mengapa Dulu dan Kini Penilaian Kita Beda?

ADA kecenderungan penilaian baik buruk atau bijak tak bijak kepada seseorang itu bisa berubah karena perubahan haluan politik atau kepentingan personal/komunal. Artinya, sesuatu yang aslinya adalah baik sangat bisa jadi dipersepsi tak baik oleh orang atau kelompok tertentu. Lalu bagaimanakan kita bisa obyektif menilai baik itu baik?

Seorang tokoh yang awalnya dipuja-puji sebagai tokoh teladan bisa dengan segera dicacimaki sebagai pengkhianat atau tokoh munafik. Kenyataan ini mendorong saya untuk membaca buku karya Jonathan Haidt yang berjudul "The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion". Mengapa orang-orang baik itu dipisah-pisahkan oleh politik dan agama. Pertanyaan yang sangat kritis kan?

Pembentukan opini dan persepsi yang terlalu bersemangat dan berpihak memang selalu melahirkan tindakan yang negatif untuk proses pencerdasan bangsa dan perdamaian. Fitnah, berita palsu, informasi provokatif merajalela. Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

Pertama, tetaplah sejuk dan obyektif. Jangan termakan oleh isu. Biasakan bersikap tidak terburu-buru menilai. Kedua, jangan libatkan diri dalam pusaran penyebar fitnah. Sekali terjun dalam pusaran fitnah, biasanya akan sulit keluar. Perhatikan saja di medsos dan media massa, para penyebar fitnah dan hoax adalah relatif tetap orang-orang itu saja.

Teringatlah saya pada dawuh Syaikh Syuraih al-Qadli: "Kalau fitnah itu datang kepadamu, janganlah engkau mencari kabar tentangnya dan jangan engkau kabarkan tentang fitnah itu. Jangan libatkan diri dalam memberitakan dan menyebarkan fitnah itu karena hal itu bermakna MELEMAHKAN AGAMA." Renungkanlah. Salam, AIM. [*]

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Terpopuler - Mengapa Dulu dan Kini Penilaian Kita Beda? : https://ift.tt/2V7B0b0

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Terpopuler - Mengapa Dulu dan Kini Penilaian Kita Beda?"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.